Saya sudah meluangkan waktu untuk melihat Newton Protocol, dan yang menonjol bagi saya adalah bahwa proyek ini sebenarnya tidak berusaha mendorong ide biasa bahwa AI bisa melakukan semuanya sendiri. Proyek ini tampaknya lebih berfokus pada pertanyaan yang lebih sulit dan lebih praktis: bagaimana agen AI dapat bertindak di onchain tanpa diberikan kebebasan yang terlalu besar?
Itu penting karena setelah agen AI terhubung ke aset atau izin digital, ia tidak lagi sekadar memberikan saran. Ia berpotensi memindahkan dana, memicu tindakan, dan menjalankan instruksi lebih cepat daripada manusia yang sempat bereaksi. Itu bisa bermanfaat, tetapi juga menimbulkan masalah kepercayaan yang serius. Tidak ada yang ingin memberi sistem otomatis akses tak terbatas dan sekadar berharap sistem tersebut berperilaku dengan benar.
Newton Protocol mencoba mendekati hal ini melalui izin yang terkontrol. Alih-alih membiarkan agen bertindak bebas, pengguna dapat memutuskan apa yang diizinkan untuk dilakukan agen sebelum mulai beroperasi. Gagasannya adalah agen harus bekerja di dalam batas yang jelas, bukan memiliki akses terbuka ke semuanya.
Saya pikir bagian proyek inilah yang pantas mendapat perhatian lebih. Banyak orang membicarakan agen AI seolah tantangan utama adalah membuatnya lebih pintar. Namun kecerdasan hanyalah salah satu bagiannya. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa agen yang cerdas tidak dapat membuat keputusan yang merugikan hanya karena ia memiliki akses yang terlalu besar.
Misalnya, seseorang mungkin ingin agen AI mengelola sejumlah aset digital tertentu. Dalam pengaturan yang berisiko, agen bisa bebas memindahkan dana ke mana pun yang menurutnya paling baik atau melakukan tindakan yang tidak pernah diharapkan pengguna. Dengan model seperti yang dimiliki Newton Protocol, pengguna dapat membuat batasan di sekitar aktivitas tersebut. Agen mungkin diizinkan bekerja hanya dengan aset yang disetujui, tetap di bawah jumlah tertentu, menghindari tindakan berisiko, atau berhenti beroperasi saat kondisi tertentu terpenuhi.
Itu membuat agen terasa lebih seperti alat yang mengikuti serangkaian instruksi yang jelas, bukan seperti sesuatu yang memiliki kendali penuh.
Saya terus kembali ke ini karena kripto selalu punya masalah izin. Banyak orang menyetujui tindakan tanpa benar-benar memahami apa yang mereka izinkan. Beberapa izin bisa tetap aktif lebih lama dari yang diperkirakan. Otomasi bisa membantu, tetapi sering kali meminta pengguna untuk mempercayai sistem dengan akses yang lebih besar daripada yang nyaman untuk mereka berikan.
Newton Protocol tampaknya berusaha membuat proses itu menjadi lebih terstruktur. Proyek ini dibangun berdasarkan gagasan bahwa izin harus dapat diprogram, artinya pengguna dapat menentukan sejak awal jenis tindakan apa yang diizinkan. Itu bisa bermanfaat bagi individu, tim, komunitas, dan organisasi yang menginginkan otomasi tanpa menyerahkan kendali penuh.
Sebuah kelompok yang mengelola dana bersama, misalnya, dapat mengizinkan agen menangani pembayaran rutin dalam anggaran tetap. Sebuah bisnis bisa menggunakan otomasi untuk tugas-tugas rutin tertentu tanpa memberikan otoritas tak terbatas kepada sistem atas seluruh asetnya. Pengguna biasa bisa mengotomasi tindakan onchain yang berulang sambil tetap menjaga batasan ketat mengenai apa yang mampu dilakukan agen.
Bagian menariknya adalah Newton Protocol tidak hanya soal otomasi. Ini juga tentang membuktikan bahwa otomasi dijalankan sesuai aturan.
Secara sederhana, proyek ini berusaha menciptakan sistem yang memberi pengguna lebih banyak keyakinan bahwa agen bertindak sesuai izin yang diberikan kepadanya. Tujuannya bukan hanya mengatakan, “Percayai agen AI ini.” Tujuannya adalah membuatnya memungkinkan untuk memeriksa apakah agen tetap berada di dalam batas yang ditetapkan.
Tentu saja, itu tidak menyelesaikan semuanya.
Sebuah agen bisa mengikuti aturan dengan sempurna tetapi tetap membuat keputusan yang buruk jika aturan tersebut dirancang dengan buruk. Agen juga bisa bertindak berdasarkan informasi yang lemah atau merespons kondisi yang kemudian ternyata berisiko. Teknologi bisa mengurangi beberapa kesalahan, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan penilaian manusia.
Itulah sebabnya saya tidak melihat Newton Protocol sebagai sesuatu yang menghilangkan risiko. Saya memandangnya lebih sebagai upaya untuk membuat risiko lebih mudah dikendalikan.
Proyek ini juga perlu membuktikan bahwa sistem izinnya cukup sederhana untuk pengguna biasa. Alat keamanan hanya berguna jika orang dapat memahaminya. Jika membuat aturan menjadi terlalu rumit, banyak pengguna mungkin memilih izin yang terlalu luas karena terasa lebih mudah. Itu akan melemahkan seluruh idenya.
Saya juga terus memantau bagaimana proyek ini berkembang dari waktu ke waktu. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana aturan ditegakkan, bagaimana tindakan diverifikasi, seberapa besar kendali yang benar-benar dimiliki pengguna, dan apakah sistem tetap mudah dipahami saat ukurannya bertambah.
Bagi saya, nilai sebenarnya dari Newton Protocol bukan tentang kegembiraan jangka pendek seputar AI atau token NEWT. Ini tentang apakah proyek ini dapat membantu menciptakan cara yang lebih aman bagi agen AI untuk beroperasi di kripto.
Agen AI mungkin menjadi lebih umum dalam keuangan digital, manajemen aset, pembayaran, dan sistem online. Namun masa depan itu hanya masuk akal jika pengguna dapat memberikan otoritas terbatas kepada agen tersebut tanpa merasa bahwa mereka sepenuhnya menyerahkan kendali.
Newton Protocol berusaha membangun berdasarkan gagasan itu. Proyek ini mempertanyakan apakah otomasi bisa menjadi bermanfaat tanpa menjadi berbahaya, dan apakah agen AI bisa bertindak di onchain sambil tetap dibatasi oleh aturan yang dipahami pengguna.
Itulah gambaran besar yang akan saya awasi. Bukan apakah agen AI menjadi populer dalam semalam, melainkan apakah proyek seperti Newton Protocol dapat membuat mereka cukup aman untuk dipercaya dalam jangka panjang.

