Pasar semakin memperhitungkan kenaikan suku bunga Bank of Japan dari 0,75% menjadi 1,00%, menandai langkah lain menuju normalisasi moneter setelah puluhan tahun suku bunga ultrarendah.

Suku bunga yang lebih tinggi diperkirakan akan memberikan tekanan pada obligasi dan ekuitas pertumbuhan tinggi, sementara menguntungkan saham keuangan melalui margin pinjaman yang lebih baik. Namun, pertanyaan kunci bagi investor crypto adalah bagaimana Bitcoin akan bereaksi.

Secara historis, Bitcoin lebih berperilaku seperti aset berisiko daripada sebagai lindung nilai inflasi selama siklus pengetatan. Seiring dengan meningkatnya partisipasi institusional melalui ETF spot, Bitcoin semakin sensitif terhadap kondisi likuiditas global dan kebijakan makroekonomi.

Data CryptoQuant menunjukkan bahwa minat terbuka futures Bitcoin telah jatuh tajam dari puncaknya di 2025, menunjukkan bahwa leverage berlebihan telah terflush dari pasar. Walaupun ini mengurangi risiko sistemik, minat terbuka tetap cukup tinggi untuk menunjukkan bahwa capitulasi penuh belum terjadi.

Dengan kata lain, Bitcoin mungkin mendekati zona bottoming, tetapi sulit untuk memastikan bahwa market bottom sudah terjadi. Ke depannya, posisi futures, tingkat pendanaan, dan aliran modal institusional mungkin lebih berpengaruh dibandingkan harga itu sendiri.

Ditulis oleh XWIN Jepang