
Vanar terasa beda bukan cuma karena teknologinya, tapi karena orang-orang di baliknya. Timnya banyak datang dari dunia gim, hiburan, dan kerja sama brand—industri yang hidup dari satu hal: dipakai orang banyak.
Di dunia gim, produk yang ribet langsung ditinggal. Tidak ada waktu buat belajar sistem, apalagi istilah teknis. Pengalaman harus langsung jalan. Pola pikir seperti ini kebawa ke cara Vanar dibangun.
Makanya, produk di ekosistem Vanar tidak terasa seperti “aplikasi kripto”. Virtua dan VGN lebih mirip platform hiburan digital yang sudah familiar, hanya saja kepemilikan asetnya disimpan di blockchain. User bisa pakai dulu, paham belakangan—atau bahkan tidak perlu paham sama sekali.
Pendekatan ini mungkin terlihat sederhana, tapi justru jarang. Banyak blockchain dibangun dari sisi teknis, baru kemudian mencoba “memaksa” user masuk. Vanar memilih jalan sebaliknya: bikin pengalaman yang nyaman dulu, teknologinya menyusul di belakang layar.
Untuk target adopsi massal, pendekatan seperti ini terasa lebih realistis. Karena pada akhirnya, orang datang bukan karena blockchain-nya, tapi karena produknya enak dipakai.
