Satu hal yang belakangan ini mulai saya pertanyakan adalah mengapa kita menerima idle capital (modal menganggur) sebagai hal yang normal.
Setiap platform melatih kami untuk berpikir uang harus memilih satu pekerjaan saja. Entah uang itu menghasilkan yield, atau menjadi jaminan untuk sebuah transaksi (trade). Begitu Anda mengubah peran, modal Anda berhenti menjadi produktif di tempat lain.
Yang menarik perhatian saya tentang GRVT bukanlah yield itu sendiri. Yang menarik adalah asumsi yang mereka tantang.
Jika satu saldo bisa tetap produktif sekaligus berfungsi sebagai jaminan trading, maka inovasi yang lebih besar bukanlah imbal hasil yang lebih tinggi. Melainkan mengurangi hidden opportunity cost yang selama bertahun-tahun diam-diam sudah diterima para trader.
Bagian yang menurut saya sering terlewat adalah bahwa efisiensi modal tidak pernah sekadar cerita tentang imbalan (rewards). Itu juga cerita tentang risiko.
Saya ingin memahami dengan tepat bagaimana perilaku yield ketika posisi menjadi volatil. Apakah setiap saldo memenuhi syarat? Apa yang terjadi saat terjadi likuidasi? Bagaimana self-custody bertahan ketika pasar menjadi kacau, bukan tenang?
Pertanyaan-pertanyaan itu lebih penting bagi saya daripada APY yang dipublikasikan.
Saya merasa generasi berikutnya dari infrastruktur trading tidak akan didefinisikan hanya oleh eksekusi yang lebih cepat. Itu akan ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh satu dolar tanpa memaksa pengguna mengorbankan kontrol atau mengambil risiko yang tidak sepenuhnya mereka pahami.
Apakah kita sedang memasuki masa ketika modal tidak lagi harus memilih hanya satu pekerjaan?
@grvt_io #grvt