Selat Hormuz sedang menjadi kartu paling sensitif dalam perundingan AS–Iran.

Berita terbaru menunjukkan, beberapa media mengutip sumber yang menyatakan bahwa AS telah memberikan peringatan yang tegas kepada Iran: setiap upaya untuk mengubah kondisi terkini Selat Hormuz akan dianggap melanggar kesepakatan yang telah dicapai kedua belah pihak sebelumnya. Pihak AS juga menyatakan bahwa apakah Iran mematuhi komitmennya terkait Selat Hormuz akan menjadi ujian pertama untuk melihat apakah kesepakatan di antara keduanya masih dapat terus dijalankan, dan pengaturan lanjutan untuk pembekuan dana juga akan dikaitkan dengan kepatuhan Iran.

Namun, pada saat yang sama, sikap Iran tidak melunak.

Menurut laporan terbaru Reuters, Iran tetap berpendapat bahwa dirinya harus memiliki kendali utama atas pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz, dan berencana setelah masa transisi 60 hari saat ini berakhir, mendorong pengakuan dari komunitas internasional atas haknya dalam mengelola jalur pelayaran dan penetapan biaya. Bahkan pihak militer Iran kembali memperingatkan bahwa semua kapal tanker harus mematuhi rute yang ditetapkan Iran, jika tidak, mereka dapat menghadapi “respons tegas”.

Yang benar-benar patut diperhatikan bukanlah siapa yang mengeluarkan ancaman, melainkan fokus permainan tawar-menawar kedua pihak sudah bergeser.

Dulu pasar khawatir apakah Selat Hormuz akan ditutup atau tidak; sekarang perebutannya adalah siapa yang memiliki hak untuk menetapkan aturan.

Selat Hormuz menyumbang sekitar seperlima minyak mentah yang diangkut melalui laut global. Jika aturan pelayaran berubah, dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tetapi kemungkinan besar juga memengaruhi biaya pelayaran global, biaya asuransi, serta logika penetapan harga untuk seluruh aset berisiko.

Sekarang, yang dipertaruhkan bukan lagi aksi militer, melainkan siapa yang mampu memegang kendali dalam perundingan.

Selama Selat Hormuz tetap menjaga pelayaran berjalan normal, harga minyak dan pasar global kemungkinan besar tidak akan mengalami lonjakan ekstrem; tetapi jika kedua pihak kembali buntu dalam hal hak pengelolaan pelayaran, aturan lintas, atau persoalan penetapan biaya, maka penilaian pasar terhadap risiko geopolitik kemungkinan akan kembali memanas.

Dalam beberapa hari ke depan, dibandingkan menyoroti perang kata-kata, saya lebih memperhatikan tiga sinyal:

apakah Selat Hormuz terus mempertahankan pelayaran yang normal;

apakah perundingan teknis AS–Iran telah mencapai kemajuan yang substansial;

apakah aset Iran yang dibekukan mulai masuk ke tahap proses pencairan.

Ketiga sinyal inilah yang benar-benar menjadi variabel kunci yang menentukan arah tahap berikutnya untuk minyak mentah, emas, BTC, dan aset berisiko global.

#霍尔木兹海峡 #伊朗 #BTC #宏观经济 #加密货币