Donald Trump kembali mengancam Iran akan "tidak lagi ada" jika Amerika Serikat memutuskan menyelesaikan operasi militernya. Ancaman itu muncul setelah militer AS menyerang 10 target militer Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz.
Situasinya makin gila.
๐ฎ๐ท Iran kemudian mengklaim menyerang target militer AS di Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal balistik serta drone.
๐ฐ๐ผ Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya mencegat serangan.
๐ง๐ญ Bahrain mengecam keras serangan tersebut dan menyebut tindakan Iran sebagai pola agresi yang terus berulang.
Target serangan AS disebut meliputi:
โข Infrastruktur pengawasan militer.
โข Sistem komunikasi.
โข Pertahanan udara.
โข Gudang drone.
โข Fasilitas rudal.
โข Kemampuan penebar ranjau laut.
Ironisnya, semua ini terjadi saat kedua negara seharusnya menjalani gencatan senjata 60 hari sambil melakukan negosiasi damai. Kini masing-masing saling menuduh pihak lain melanggar kesepakatan.
Sementara itu, Selat Hormuzโjalur vital pengiriman minyak duniaโkembali menjadi pusat konflik. Sedikit saja eskalasi bertambah, dampaknya bisa menjalar ke harga energi, inflasi global, rantai pasok, hingga pasar saham dan kripto.
Perang belum selesai. Diplomasi belum berhasil. Dunia kembali menatap Timur Tengah dengan penuh kekhawatiran.

