Tewas Alan Greenspan, mantan Presiden Dewan Federal Reserve AS, pada Senin, 22 Juni 2026, pada usia 100 tahun, setelah komplikasi yang terkait dengan penyakit Parkinson. Dengan kepergiannya, halaman salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kebijakan moneter modern pun ditutup; seorang pria yang membentuk arah pasar selama puluhan tahun, dan berdiri di pusat perubahan yang membentuk kembali ekonomi AS dan global.

$NVDAB

Greenspan bukan hanya ketua bank sentral yang menjabat lama; ia juga menjadi simbol dari satu era penuh cara berpikir tentang uang dan politik. Ia memimpin Federal Reserve dari Agustus 1987 hingga Januari 2006. Dalam tahun-tahun tersebut, ia berubah menjadi rujukan besar bagi pasar, sekaligus sosok yang memancing kekaguman sekaligus kontroversi. Dengan setiap krisis atau guncangan, para investor memandang Federal Reserve dengan penuh penantian akan satu kata yang menentukan atau intervensi yang menghentikan kepanikan sebelum berubah menjadi kehancuran.

Dari “maestro” menjadi “peramal”

Sebagian orang menyebutnya “maestro” dan “peramal”, karena pasar melihat bahwa setiap isyarat darinya adalah peta tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Pengaruh ini tidak datang dari retorika semata, melainkan dari kemampuan yang langka untuk memadukan disiplin moneter dengan keluwesan politik dalam momen-momen kebingungan finansial. Namun, aura itu menyimpan benih pertanyaan yang kemudian akan mengejarnya: apakah Greenspan memadamkan kebakaran, atau justru menanam rasa bahwa intervensi akan datang—apa pun setinggi apa pun risikonya?

Ujian dini... dan pesan yang jelas

Hanya beberapa minggu setelah menjabat, Greenspan menghadapi keruntuhan “Senin Hitam” pada 1987—uji besar pertamanya di posisi kekuasaan moneter. Ia dikreditkan karena membantu memulihkan sebagian ketenangan di pasar melalui penyediaan likuiditas dan dukungan bagi sistem keuangan pada saat kepercayaan terancam runtuh.

Sejak saat itu, mulai terbentuk pemahaman luas bahwa Federal Reserve pada masa pemerintahannya tidak akan sekadar mengawasi, melainkan akan turun tangan setiap kali kebutuhan politik dan finansial menuntutnya.

Sebuah kalimat yang mengubah bahasa pasar

Pada tahun 1996, Greenspan memasuki kosakata ekonomi global berkat ungkapan terkenalnya “kegembiraan yang irasional”, saat ia memperingatkan bahwa harga saham mungkin telah menjauh dari nilai sebenarnya. Kalimatnya singkat, tetapi dampaknya jauh, karena menunjukkan bahwa kepala Federal Reserve sendiri melihat tanda-tanda adanya pembesaran berlebihan di pasar—meski ia berusaha menghindari konfrontasi langsung dengan hal itu.

Belakangan, istilah Greenspan Put menjadi salah satu istilah yang paling sering dibicarakan di Wall Street. Maknanya sederhana sekaligus menjengkelkan: bila pasar jatuh tajam, Federal Reserve akan turun tangan dengan satu cara atau cara lain untuk melindunginya. Di sinilah kritik nyata terhadap warisannya mulai mengemuka, karena apa yang tampak seperti kebijakan cerdas untuk menjaga stabilitas, dalam pandangan para pengkritiknya, berubah menjadi pendorong tidak langsung bagi penumpukan risiko, utang, dan pengungkit finansial.

Krisis yang menjungkalkannya

Setelah keluar dari jabatannya pada 2006, ujian atas warisannya yang panjang tidak menunggu lama. Ketika gelembung perumahan meledak dan krisis keuangan global meletus pada periode 2007–2009, namanya kembali menjadi sorotan dalam perdebatan publik—sebagai salah satu simbol fase yang menyiapkan jalan bagi krisis, bukan sekadar orang yang menjalankan kebijakan moneter pada masa itu.

Para pengkritiknya menuduhnya bahwa dukungannya pada suku bunga rendah dalam jangka panjang, bersama dengan dukungannya terhadap liberalisasi pasar keuangan, ikut menciptakan lingkungan subur bagi pembengkakan utang dan taruhan yang berbahaya.

Pengakuan yang terlambat namun mencolok

Pada tahun 2008, Greenspan menyampaikan salah satu pengakuan paling terkenal dalam sejarah kebijakan moneter AS, ketika ia mengakui di hadapan Kongres adanya “kesalahan” dalam asumsi lamanya bahwa pasar dan bank mampu mengatur diri sendiri. Ia menggambarkan krisis tersebut sebagai “tsunami kredit yang datang sekali dalam seratus tahun”.

Pengakuan itu mencolok, karena bukan sekadar meredakan perdebatan; malah memperdalamnya. Pria yang lama meyakini efisiensi pasar akhirnya mengakui bahwa pasar saja tidaklah cukup.

Greenspan dalam cermin Malabi

Ketegangan antara kepercayaan yang berlebihan dan kebijaksanaan yang terlambat inilah yang ditangkap oleh Sebastian Malabi dalam bukunya The Man Who Knew: The Life and Times of Alan Greenspan.

Buku ini tidak hanya menghadirkan Greenspan sebagai administrator teknis, tetapi juga sebagai salah satu perancang sistem keuangan modern, seorang yang menyadari ketidakseimbangan lebih awal dari banyak orang—namun memilih untuk menahan diri lebih dari yang seharusnya. Dan di jantung buku ini, pertanyaan yang sama tetap bergema: jika ia tahu, mengapa ia tidak bergerak?

Buku ini meraih sambutan yang sangat besar

Buku ini memenangkan Financial Times and McKinsey Business Book of the Year Award tahun 2016, dan menjadi buku biografi otobiografi pertama yang meraih penghargaan tersebut. Kemudian buku ini juga dipilih sebagai salah satu buku terbaik tahun itu di lebih dari satu forum ekonomi dan intelektual.

Tidaklah aneh, sebab buku ini tidak hanya menceritakan kisah seorang pria, tetapi juga menjelaskan bagaimana satu era pemikiran finansial dibentuk, dan bagaimana era itu berakhir dengan kritik yang sangat keras.

Buku The Man Who Knew karya Sebastian Malabi menyajikan biografi ekonomi yang analitis tentang Alan Greenspan, ketua Federal Reserve AS pada periode 1987 hingga 2006, serta menampilkan pembacaan mendalam tentang perannya dalam membentuk sistem keuangan modern. Buku ini menjelaskan bagaimana Greenspan berpindah dari keyakinan yang kokoh pada efisiensi pasar bebas menjadi memimpin bank sentral melalui rangkaian krisis besar, dimulai dari kejatuhan pasar saham tahun 1987, berlanjut dengan gelembung internet, hingga awal mula krisis perumahan—ketika ia berulang kali mengandalkan penurunan suku bunga dan penyuntikan likuiditas untuk mencapai stabilitas secara cepat.

Warisan yang tidak bisa diringkas hanya dengan sebuah gelar

Pada akhirnya, tidak mungkin menempatkan Alan Greenspan dalam satu kotak. Ia adalah sosok yang membantu mengukuhkan stabilitas ekonomi AS selama periode panjang pertumbuhan dan stabilitas relatif, tetapi ia juga termasuk salah satu wajah paling menonjol yang terkait dengan penundaan upaya menghadapi ketidakseimbangan—hingga akhirnya menjadi lebih besar daripada yang mudah dikendalikan.

Karena itu, warisannya tetap menjadi perpaduan yang langka antara pencapaian moneter dan pertanyaan-pertanyaan yang ditunda. Ia memahami pasar secara mendalam, dan ikut membentuk aturan permainan keuangan modern, tetapi ia juga terlalu percaya pada kemampuannya untuk memperbaiki diri sendiri—lebih daripada yang seharusnya—sehingga pengalamannya menjadi salah satu yang paling berpengaruh dan paling kompleks dalam sejarah kebijakan moneter kontemporer.#SOLRises9% #BTCUSDT #SpaceXToJoinNasdaq100 #federalbank $SPCXB

SPCXB
SPCXB
150.94
+0.75%

$BTC

BTC
BTCUSDT
64,101.7
+2.56%