Para peneliti dan pembangun percaya bahwa kecerdasan buatan mungkin mempercepat timeline kuantum dan memaksa pemikiran ulang yang lebih luas tentang bagaimana keamanan digital berfungsi.

Lanskap keamanan di masa depan akan berbeda,” kata Alex Pruden, CEO Project Eleven, sebuah perusahaan yang fokus pada infrastruktur tahan kuantum untuk crypto.

Antara kuantum dan AI, kita akan masuk ke dunia di mana keamanan, dan ini lebih luas dari sekadar crypto, Anda tidak bisa lagi mengandalkan cara yang selalu Anda lakukan sebelumnya,” kata Pruden.

Konvergensi AI dan komputasi kuantum semakin mendesak setelah peringatan dari perusahaan teknologi besar dan peneliti bahwa komputer kuantum yang relevan secara kriptografi mungkin tiba lebih cepat dari yang diharapkan sebelumnya. Meskipun para ahli tetap terbagi tentang kapan tepatnya komputer kuantum yang mampu memecahkan enkripsi modern akan muncul, banyak yang percaya bahwa AI dapat secara dramatis memperpendek waktu pengembangan.

AI pasti digunakan untuk mempercepat pengembangan komputasi kuantum,” kata Pruden. Para peneliti sudah menggunakan sistem pembelajaran mesin untuk mengoptimalkan koreksi kesalahan kuantum, salah satu bottleneck rekayasa terbesar di bidang ini.

Illia Polosukhin, salah satu pendiri NEAR Protocol dan mantan peneliti AI di Google, mengatakan bahwa AI sudah mempercepat penemuan ilmiah selama bertahun-tahun.

AI semakin menjadi akselerator,” kata Polosukhin. “Laju penelitian akan semakin cepat dari sini, dan kami sudah melihat kemajuan yang tidak diharapkan orang akan datang secepat ini.”

Polosukhin menunjuk pada pengalamannya di Google pada tahun 2016, ketika sistem pembelajaran mesin sudah digunakan untuk menemukan material baru. “Mungkin komputer kuantum generasi berikutnya akan dibangun dengan AI dan komputer kuantum dari generasi ini,” katanya. “Ini saling memberi umpan.”

Bagi para peneliti keamanan, ancaman ini tidak lagi sekadar teoritis. Kekhawatiran yang semakin meningkat adalah bahwa pemerintah dan aktor canggih sudah mulai mengumpulkan lalu lintas internet yang terenkripsi hari ini dengan harapan bahwa komputer kuantum di masa depan pada akhirnya dapat mendekripsinya, sebuah strategi yang sering disebut sebagai “panen sekarang, dekode nanti.” “Jika saya tahu komputer kuantum akan datang dalam beberapa tahun, saya akan mulai mencoba menangkap semua data yang mungkin beredar,” kata Polosukhin.

Implikasi yang lebih luas, menurut para peneliti, adalah bahwa baik AI maupun komputasi kuantum sedang meruntuhkan asumsi mendasar dari era digital: bahwa enkripsi tetap dapat diandalkan untuk jangka waktu yang lama.

Sebaliknya, keamanan mungkin semakin menjadi proses adaptif yang terus berkembang, di mana sistem harus terus meningkatkan diri hanya untuk bertahan.

#Robertkiyosaki

#CryptoPatience

#GamingCoins

#jasmyustd