Kalau dengar nama Walrus, jangan langsung mikir hewan laut 😄
Di dunia crypto, Walrus (WAL) itu proyek yang kerjanya justru di balik layar: ngurusin penyimpanan data.
Selama ini banyak orang kenal crypto cuma dari token dan grafik. Naik senang, turun panik. Padahal di balik semua aplikasi Web3, ada satu pertanyaan penting: data ini disimpan di mana, dan siapa yang pegang kendalinya?
Walrus hadir buat ngisi celah itu.
Dia adalah protokol penyimpanan data terdesentralisasi yang dibangun di atas blockchain Sui. Fokusnya bukan gimmick, tapi bikin sistem penyimpanan yang aman, privat, dan tahan sensor.
Kalau pakai cloud biasa, data kita numpuk di server perusahaan tertentu. Aman sih… selama servernya nggak bermasalah. Begitu ada gangguan, kebijakan berubah, atau sensor, kita nggak punya banyak pilihan. Di Walrus, data nggak disimpan di satu tempat, tapi dipecah dan disebar ke banyak node.
Teknologinya juga nggak ribet kalau dijelasin pelan-pelan.
Walrus pakai erasure coding dan blob storage. Intinya, file besar dipecah jadi bagian kecil, disimpan terpisah, dan tetap bisa dibuka walau sebagian potongan itu hilang. Jadi lebih tahan banting tanpa bikin biaya membengkak.
Terus token WAL fungsinya apa?
Bukan cuma buat spekulasi. WAL dipakai buat transaksi di jaringan, insentif penyedia storage, staking, dan ikut ngatur arah protokol lewat governance. Jadi ada hubungan langsung antara token dan kerja sistemnya.
Walrus ini tipikal proyek yang nggak teriak-teriak, tapi perannya penting. Dia bukan soal “cepat kaya”, tapi soal fondasi Web3. Dan biasanya, proyek model begini baru kerasa nilainya pas ekosistemnya makin rame.
Di tulisan berikutnya, kita bakal bahas kenapa penyimpanan data terpusat mulai kelihatan rapuh, dan kenapa solusi kayak Walrus pelan-pelan jadi relevan
#walrus @Walrus 🦭/acc $WAL